zulazula " I write what I want to say "
RSS

Aku selalu berjalan dengan impianku yang kujadikan kompas penentu tujuan. Ketika ada yang tertunda, sesegera mungkin kuselesaikan yang ada di depan mata dan kembali menjemput yang belum sempat kucapai hal lalu. Aku yakin, dalam setiap kebaikan ada Malaikat yang mengabulkan walau tak sekejap tercapai.

-zulazula-

Suara itu terlalu indah. Hingga aku tak pernah jera. Pernah suatu kali ia membuang mimpiku yang aku sudah tunggu bertahun-tahun lamanya. Memeluk Matthew Bellamy tentunya, saat itu pelukannya erat menghangatkan diatas kegilaanku akan dirinya. Musisi MUSE yang membuatku hampir dilanda demam fanatik Alternative Rock. Membuat kuping teman-temanku panas, mendengar suara seksi sedikit sember berteriak-triak memuja musikku itu. Aku tak pernah perduli apa kata mereka dan yang pasti aku suka, inilah aku. Namun, tidak untuk hal yang satu itu. Suara itu membangunkan mimpi terindah selama hidupku. Aku ingat benar, Matthew manatap mataku tajam saat aku melemparkan pujian. Ia dekatkan wajahnya padaku, memegang daguku, dan ia datang membuyarkan semua. Mataku tersadar, tanpa kecewa.

” Bangun, sudah pagi de…mimpi apa sih kok dua kali telpon kakak tidak diangkat-angkat?” ucapnya lembut. Mataku masih setengah terpejam namun bibirku mengembangkan senyum. Jika kamu tahu, aku sedang bermimpi Metthew ingin mencumbuku. Karenamu mimpi itu buyar dan entah kapan aku dapatkan mimpi seindah tadi. Tapi tak mengapa kau satu yang kutunggu dalam dunia nyata.

“ Ah, tidak aku tidak bermimpi apa-apa.” Aku berkelit. Jangan sampai ia berfikir aku Ababil, ya ABG labil. Aku sendiri tak mengerti ia selalu mejadi pagiku. Menyapaku tiap kali suara kokokan ayam berbunyi. Mengingatkanku bahwa mulailah pagimu dengan senyuman, maka bahagia kan menjelang. Ah kau sungguh berharga Angga.

***

Persiapanku mungkin tak sematang telur mata sapi ini. Sarapan pagi yang kerap kali kutemui di meja makanku. Kakak perempuanku tak pernah bosan menyuguhiku ini, ia bilang ini sehat penuh protein dan cocok buat energimu di pagi hari. Padahal bilang saja, ini masakan yang paling mudah dan tidak perlu memakai tenaga pikiran untuk memasaknya. Kejam! Setahun ibu tidak pulang, bisa-bisa aku bisulan dibuat olehnya.

“ Habiskan telur mata sapimu. Biar kamu menang lomba debat nanti. Hari ini bukan?” tanya ia padaku sambil berdiri di dekatku. Aku mengangguk sambil memakan dengan setengah hati telur mata sapi ini lagi. Ia sudah seperti polisi, makan saja aku diawasi. Ia mungkin lupa, aku sudah mahasiswi. Bukan anak TK lagi.

“ Dari mana kakak tahu hari ini aku Debat Inggris?” tanyaku tanpa menoleh ke arahnya. Ia sudah seperti dukun, tahun segala hal tentangku. Padahal kita jarang bertemu, hanya pagi dan malam ia belum kembali dari pekerjaannya. Ia wirasuasta.

“ Surat di atas televisi itu yang memberi tahuku. Sukses deh buat kamu ya nanti. “ katanya sambil menepuk halus bahuku. Aku menunduk malu. Ah pantas saja ia tahu.

Telur mata sapi itu mengegas semangatku. Sarapan kedua adalah catatan. Ku baca lagi untuk yang kesekian kali. Ini adalah Debat Bahasa Inggris yang kesiakan kalinya juga, bedanya kali ini bukan di SMA. Universitas dan pasti tantangannya lebih besar dari yang pernah kuhadapi sebelumnya. Aku harus berhasil.

“ Bagaimana semua sudah siap? Tim A dan Tim B Debat Bahasa Inggris Universitas akan segera dimulai. Dengan bunyi gong ini maka debat resmi dimulai! ‘GOOOONG!’ “

***

Sepanjang pertandingan. Matanya tak lepas dari mataku. Nada biacaraku untungnya tak terganggu terhalang debar jantungku yang ku rasa terlalu cepat ia berdetak. Aku temui sosok yang telah lama hilang. Mungkin pipiku merona. Tak apalah kini aku dan timku adalah pemenangnya. Bangga dan tak percuma sebulan melahap banyak kosa kata dan latihan yang membuat berat badanku turun.

“ Hei, good job girl!” sapaannya manis. Mungkin ini berlebihan. Ya aku tahu, wajahnya yang manis. Perawakannya membuatku meringis jika ia sudah ada yang punya. Aku rasa aku jatuh cinta.

                                            **BERSAMBUNG**

[Flash 9 is required to listen to audio.]

Bersenandung mewarnai sepi yang menyapu pelangi hati . melodi hujani hati lupakan rintih hati.

Tampaknya mereka telah meninggalkanku sendiri lagi. Setelah seorang lelaki memasukkan sebuah benda tajam di tangan kiriku. Aku tak dapat mengelak. Aku lemah. Matapun terpenjam,rasanya urat mataku terputus.Aku tidak dapat membukanya. Aku hanya dapat merasakan lewat pendengaranku. Dan sepi yang kudengar.

Aku menyesal, telah murka. Menuding tuhan tidak sayang padaku. Kini Ia berbaik hati padaku. Aku akan menjadi bintang seperti ibu dan ayahku.

Jiwaku masih terasa hidup. Aku ingin bersujud padaNya, sebagai rasa nyata engkau ada. Membayangkan sujud dan berdoa ,ya ini hanya aku dan Ia yang tahu. Ke dua mataku basah terhempas rindu. Bawaku pada mereka. Pintaku.

***

” Peganglah tanganku. Mereka telah menunggumu.” ajak seorang lelaki berjubah putih. Wajahnya cerah bersinar. Senyum itu meyakinkan bahwa aku akan bahagia ikut dengannya. Namun aku bimbang. Ia menunggu ku jabat tangannya.

Dua bintang bersinar terang di atas lelaki itu. Tampak wajah ayah dan ibu tersenyum padaku.

“Ayo mereka menunggumu Vega.”ucapnya lagi. Aku masih memandanginya. Satu pertanyaan belum terjawab. “Mengapa ayah bisa menjadi bintang juga?”

Lelaki berjubah itu mengeluarkan cermin besar. Wajahku tampak setengah sedih setengah bahagia di cermin itu. Secara berlahan cermin itu memantulkan sebuah rel kereta api. Di sana terlihat aku dan ayah. Aku tampak senang saat itu, menari dan berlari mengelilingi ayah. Ayah hanya tertawa melihatku. Tiba-tiba aku di dalam cermin itu, berlari ke arah rel kreta api. Tampak dari kejauhan sebuah kreta melaju mengarah ke arahku. Ayah berteriak, namun aku sibuk bermain sendiri di tengah rel. Ayah berlari ke arahku dan meraih tanganku. Ayah melemparkan diriku dan dirinya kepinggir rel. Namun kakiku dan kaki ayah terhimpit roda kreta yang mendadak berhenti. Aku sudah tak sadarkan diri.

Semua terjawab sudah. Ayah pergi karena pendarahan. Dan aku tahu ibu tiriku menyalahkanku karena ayah menyelamatkanku.

***
[ Ibu Tiri ]

” Dok, Vega terlihat pucat. Tangannya terasa dingin. Dia kenapa dok?” tanyaku panik,entah mengapa aku merasa ia tidak di sini. Wajah anak ini tersenyum namun menitihkan air mata.

Beberapa kali alat jantung itu diletakan di dada Vega. Aku tak sanggup melihatnya. Ia terhentak dari kasur dan masih terdiam kaku. Aku sempat membencinya, namun kini rasa itu hilang berubah menjadi sesal. Ia anak tiriku yang seharusnya kujaga. Aku sadar kepergian suamiku bukan salahnya. Tapi takdir suamiku. Ia pun menderita hidup dengan kaki yang lumpuh.

“Bagaimana dok? ”
Dokter menggelengkan kepalanya dan ,
“Ia telah pergi bu.”

***
[Vega]

Aku melihat ibu tiriku . Aku telah memaafkannya. Kini aku memilih pergi jauh. Aku hanya ingin bersinar seperti bintang malam di hati mereka yang mengenangku.

TAMAT

  • sela..
  • zula : Iya aniv, haha lagi mau cari uang yang buanyak ya?
  • aniv : ia lha... gimana ya??
  • Zula : Merintis usaha. banyakin dapet beasiswa haha :D
  • sela..
  • zula : Iya aniv, haha lagi mau cari uang yang buanyak ya?
“untuk adikku pheny.”

— selamat bergabung ya. Hoho. Jangan bingung isi dengan hal yang kamu suka. Ajak teman-teman juga,biar ramai. Jangan lupa ikuti cerbungku ya :) *tetep*

Hitam! Tak ada putih. Mereka mengelilingi aku. Seperti hendak menenggelamkan aku ke dalam kawah kelam. Sesak , nafas ini terasa tersumbat. Aku butuh oksigen atau nafas buatan? Ah tidak! Aku butuh warna putih. Setidaknya warna lain selain hitam.

Mereka masih mengepungku. Mereka menahanku. Ayah, kau di mana? Ayah aku takut. Ayah mata-mata itu menghardikku seakan ingin membunuhku.
“AYAH! AYAH ! AYAH DI MANA?” aku ingin turun dari kasur ini. Tapi,mengapa lemah ?mengapa perih yang aku rasa? Kaku aku kaku ! Apa yang terjadi sebenarnya? Mengakpa aku di sini?mengapa ibu menatapku benci..

***

“Ve?” suara lembut itu membuyarkan renungku. Aku menolehkan wajah ke arah suara itu. Ia menatapku tersenyum.

“Ayah? Peluk aku ayah.. Ayah Ve rindu.” lirihku. Wajah ayah tampak bercahaya namun pucat pasi. Aku mencoba menjalankan kursi beroda ini untuk mendekat pada ayah.

“Sudah nak, tetaplah di sana. Ayah tetap di dekatmu. “ucap ayah lembut. Air mataku mulai membasahi wajahku. Aku tidak mengerti mengapa ia tampak berbeda.

“Aku ingin ikut ayah. Ayah jangan pergi. “

“Tidak nak, kau tidak bisa ikut dengan ayah. Ve, Tuhan rindu padamu. Rindu ceritamu. Kembalilah menjadi ve yang dulu.” ayah memandangku penuh kasih. Aku mendorong kursi rodaku, berusaha memeluknya. Namun seketika hitam kembali datang.

***

“Non Ve, bangun,bangun!”

“Kenapa dia? Wajahnya pucat sekali .”

” Tampaknya demam nyonya. Semalaman ia berada di depan jendela ini.”

” Pasti ia melihat bintang lagi semalaman. “

Suara ibu dan wanita muda itu. Mereka mengkhawatirkanku? Mataku sulit terbuka. Aku hanya dapat merasakan tubuhku berpindah tempat sekarang. Terasa lebih nyaman dan hangat.
Ayah , apa semalam aku benar bertemu ayah? Atau aku sedang berhalusinasi?

Bersambung…

Sejak malam itu, aku percaya ibu telah menjadi teman dewi malam. Namun sejak itu pula tangisku mewarnai malam ketika suara ibu hadir memanjakan mimpiku.

***
” Ve ayo lingkarkan kedua tanganmu di punggung saya.” Wanita muda berwajah oriental , sedikit legam dengan bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya. Ia mencoba menjadi bagian dari diriku yang hilang. Pijar matanya lembut walau aku beku dalam fikiranku sendiri. Aku tidak ingin ia mengibai aku.

” Vega, ayo. Nanti ibu marah. Atau mau saya basuh saja tubuhmu? ” tanya wanita itu.
” Aku ingin melakukan sendiri.” jawabku tenang. Wanita itu untuk kesekian kalinya menganggukan kepalanya dan memberikan apa yang aku inginkan. Biarkan aku merasa diriku berguna.

Keadilan berpaling dariku sejak malam itu. Benar-benar menjauh atau ini kutukan? Sial, seperti kata ibu tiriku . Kata terakhir yang ia lemparkan tepat di wajahku saat membuka mata.Yang aku ingat hanya suara itu, setelah itu, semua seketika menggelap. Namun genggaman ayah masih terasa menghangatkanku.

Bersambung…

Gugusan bintang di langit sangat indah malam ini. Beruntung sekali ibu tidak menutup jendela kamarku. Mungkin ia lupa atau sengaja agar tidak mendengar rengekanku lagi. Mungkin niatnya baik, agar mataku dapat lebih cepat terlelap tanpa memandangi pijar bintang semalam suntuk. Hemmp, tapi aku suka dan hatiku sejuk dengan kerlipnya. Tak perduli aku dengannya. Ia sudah lama lupa bukan denganku? Ia wanita yang hanya perduli dengan soleknya dan pernak-pernik mahal. Jika ayah tahu pasti ia sudah lama ditalak ayah. Tapi aku bertepuk tangan dalam hati untuk wanita itu. Ia pandai ,amat pandai. Ia dapat berubah - rubah seperti bunglon. Oleh karena itu ayah tertipu. Ya, aku mungkin korban ke dua setelah ayah. Tapi apa daya ia ibuku sekarang. Pengganti ibuku yang hilang.

” Ayah, ibu di mana? Ia hilang? Ia tidak pulang - pulang . ” tanyaku, selayaknya pertanyaan bocah 6 tahun. Ayah hanya tersenyum dan menggendongku ke teras. Ia mengeluarkan teropong bintangnya. Memperlihatkan aku langit pada malam itu. Ayah lalu berkata, ibu sudah tenang di sana. Sambil menunjuk ke salah satu bintang terang.

Bersambung…