Suara itu terlalu indah. Hingga aku tak pernah jera. Pernah suatu kali ia membuang mimpiku yang aku sudah tunggu bertahun-tahun lamanya. Memeluk Matthew Bellamy tentunya, saat itu pelukannya erat menghangatkan diatas kegilaanku akan dirinya. Musisi MUSE yang membuatku hampir dilanda demam fanatik Alternative Rock. Membuat kuping teman-temanku panas, mendengar suara seksi sedikit sember berteriak-triak memuja musikku itu. Aku tak pernah perduli apa kata mereka dan yang pasti aku suka, inilah aku. Namun, tidak untuk hal yang satu itu. Suara itu membangunkan mimpi terindah selama hidupku. Aku ingat benar, Matthew manatap mataku tajam saat aku melemparkan pujian. Ia dekatkan wajahnya padaku, memegang daguku, dan ia datang membuyarkan semua. Mataku tersadar, tanpa kecewa.
” Bangun, sudah pagi de…mimpi apa sih kok dua kali telpon kakak tidak diangkat-angkat?” ucapnya lembut. Mataku masih setengah terpejam namun bibirku mengembangkan senyum. Jika kamu tahu, aku sedang bermimpi Metthew ingin mencumbuku. Karenamu mimpi itu buyar dan entah kapan aku dapatkan mimpi seindah tadi. Tapi tak mengapa kau satu yang kutunggu dalam dunia nyata.
“ Ah, tidak aku tidak bermimpi apa-apa.” Aku berkelit. Jangan sampai ia berfikir aku Ababil, ya ABG labil. Aku sendiri tak mengerti ia selalu mejadi pagiku. Menyapaku tiap kali suara kokokan ayam berbunyi. Mengingatkanku bahwa mulailah pagimu dengan senyuman, maka bahagia kan menjelang. Ah kau sungguh berharga Angga.
***
Persiapanku mungkin tak sematang telur mata sapi ini. Sarapan pagi yang kerap kali kutemui di meja makanku. Kakak perempuanku tak pernah bosan menyuguhiku ini, ia bilang ini sehat penuh protein dan cocok buat energimu di pagi hari. Padahal bilang saja, ini masakan yang paling mudah dan tidak perlu memakai tenaga pikiran untuk memasaknya. Kejam! Setahun ibu tidak pulang, bisa-bisa aku bisulan dibuat olehnya.
“ Habiskan telur mata sapimu. Biar kamu menang lomba debat nanti. Hari ini bukan?” tanya ia padaku sambil berdiri di dekatku. Aku mengangguk sambil memakan dengan setengah hati telur mata sapi ini lagi. Ia sudah seperti polisi, makan saja aku diawasi. Ia mungkin lupa, aku sudah mahasiswi. Bukan anak TK lagi.
“ Dari mana kakak tahu hari ini aku Debat Inggris?” tanyaku tanpa menoleh ke arahnya. Ia sudah seperti dukun, tahun segala hal tentangku. Padahal kita jarang bertemu, hanya pagi dan malam ia belum kembali dari pekerjaannya. Ia wirasuasta.
“ Surat di atas televisi itu yang memberi tahuku. Sukses deh buat kamu ya nanti. “ katanya sambil menepuk halus bahuku. Aku menunduk malu. Ah pantas saja ia tahu.
Telur mata sapi itu mengegas semangatku. Sarapan kedua adalah catatan. Ku baca lagi untuk yang kesekian kali. Ini adalah Debat Bahasa Inggris yang kesiakan kalinya juga, bedanya kali ini bukan di SMA. Universitas dan pasti tantangannya lebih besar dari yang pernah kuhadapi sebelumnya. Aku harus berhasil.
“ Bagaimana semua sudah siap? Tim A dan Tim B Debat Bahasa Inggris Universitas akan segera dimulai. Dengan bunyi gong ini maka debat resmi dimulai! ‘GOOOONG!’ “
***
Sepanjang pertandingan. Matanya tak lepas dari mataku. Nada biacaraku untungnya tak terganggu terhalang debar jantungku yang ku rasa terlalu cepat ia berdetak. Aku temui sosok yang telah lama hilang. Mungkin pipiku merona. Tak apalah kini aku dan timku adalah pemenangnya. Bangga dan tak percuma sebulan melahap banyak kosa kata dan latihan yang membuat berat badanku turun.
“ Hei, good job girl!” sapaannya manis. Mungkin ini berlebihan. Ya aku tahu, wajahnya yang manis. Perawakannya membuatku meringis jika ia sudah ada yang punya. Aku rasa aku jatuh cinta.
**BERSAMBUNG**